You are currently viewing 5 Fakta Penting Nutri Level, Genderang Perang Melawan Produk Non-Sehat
Indonesia akan Menerapkan Nutri-Level di Label Pangan Olahan - Ahligizi.id

5 Fakta Penting Nutri Level, Genderang Perang Melawan Produk Non-Sehat

Nutri Level, Gunakan Jarimu Untuk Memilih Produk Aman Bagi Kesehatan

Pernahkah Anda berdiri di depan rak supermarket, merasa bingung memilih minuman kemasan yang paling rendah kandungan gulanya? Selama ini, membaca tabel informasi nilai gizi di bagian belakang kemasan sering kali terasa rumit bagi banyak orang. Namun, kabar baik datang dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes).

Pemerintah secara resmi memperkenalkan sistem label Nutri Level. Kebijakan ini dirancang untuk mempermudah konsumen mengenali kadar gula, garam, dan lemak (GGL) pada minuman siap saji melalui kode visual yang sangat sederhana. Mari kita bedah lebih dalam apa itu Nutri Level dan mengapa ini menjadi titik balik bagi kesehatan masyarakat Indonesia.

GGL dan Resiko Penyakit Di Baliknya

Sederhananya, gula, garam, dan lemak (GGL) adalah nutrisi yang dibutuhkan tubuh sebagai energi dan pendukung fungsi organ. Namun, jika dikonsumsi berlebihan, mereka berubah menjadi racun yang merusak metabolisme dan menyumbat sistem tubuh.

Berikut adalah alasan mengapa ketiganya berbahaya jika dikonsumsi di atas batas normal beserta penyakitnya:

1. Gula Berlebih

  • Bahayanya: Menyebabkan lonjakan insulin kronis dan penumpukan lemak di hati. Tubuh kehilangan kemampuan mengolah glukosa secara normal.
  • Penyakit: Diabetes Melitus Tipe 2, Obesitas, dan Kerusakan Gigi.

2. Garam Berlebih (Natrium)

  • Bahayanya: Natrium menarik air ke dalam aliran darah, sehingga volume darah meningkat. Ini memberikan tekanan ekstra pada dinding pembuluh darah dan jantung.
  • Penyakit: Hipertensi (Darah Tinggi), Stroke, dan Gagal Ginjal.

3. Lemak Berlebih (Terutama Lemak Jenuh & Trans)

  • Bahayanya: Meningkatkan kadar kolesterol jahat (LDL) yang membentuk plak di dinding pembuluh darah. Hal ini memicu penyempitan aliran darah.
  • Penyakit: Jantung Koroner, Kolesterol Tinggi, dan Perlemakan Hati (Fatty Liver).

Ringkasan Batas Aman Konsumsi Harian (Rumus G4-G1-L5):

  • Gula: 4 Sendok Makan (50 gram)
  • Garam: 1 Sendok Teh (5 gram)
  • Lemak: 5 Sendok Makan (67 gram)

Apa Itu Nutri Level?

Indonesia akan Menerapkan Nutri-Level di Label Pangan Olahan - Ahligizi.id
Indonesia akan Menerapkan Nutri-Level di Label Pangan Olahan – Ahligizi.id

Nutri Level adalah sistem klasifikasi nilai gizi pada produk Minuman Berpemanis Dalam Kemasan (MBDK) dan minuman siap saji (seperti kopi kekinian atau boba). Terinspirasi dari sistem Nutri-Grade yang sukses diterapkan di Singapura, Nutri Level membagi produk ke dalam empat kategori utama: A, B, C, dan D.

Tujuan utamanya adalah menekan angka prevalensi penyakit tidak menular (PTM) seperti diabetes melitus tipe 2 dan obesitas yang kian meningkat di Indonesia. Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), konsumsi gula berlebih menjadi salah satu pemicu utama gangguan kesehatan kronis di tanah air.

Negara Lain

Di negara lain penggunaan stiker kemasan untuk informasi kandungan produk juga telah diterapkan. Disana lebih dikenal dengan nama Front-of-Pack Labeling (FOPL). Berikut adalah 5 negara yang telah menerapkannya:

  1. Singapura (Nutri-Grade): Inspirasi utama Indonesia; menggunakan skala A (hijau) hingga D (merah) khusus untuk minuman.
  2. Prancis (Nutri-Score): Menggunakan skala warna dan huruf A (hijau) hingga E (merah) untuk hampir semua jenis makanan olahan.
  3. Chile (Stop Signs): Menggunakan simbol “Stop” hitam segi delapan dengan tulisan “Tinggi Gula/Garam/Lemak” yang sangat tegas.
  4. Australia (Health Star Rating): Menggunakan sistem rating bintang (0.5 hingga 5 bintang); semakin banyak bintang, semakin sehat produknya.
  5. Inggris (Traffic Light Rating): Menggunakan sistem lampu lalu lintas (Merah, Kuning, Hijau) untuk setiap kategori zat gizi secara terpisah dalam satu kemasan.

4 Tingkatan Nutri Level yang Wajib Anda Tahu

Nutri Level - Health Promotion Board
Nutri Level – Health Promotion Board

Sistem ini menggunakan kode warna dan huruf untuk memberikan peringatan cepat kepada konsumen:

  1. Level A (Warna Hijau Gelap): Merupakan pilihan paling sehat. Minuman ini mengandung kadar gula sangat rendah (biasanya di bawah 1 gram per 100ml) dan tidak mengandung pemanis buatan.
  2. Level B (Warna Hijau Muda): Masih tergolong pilihan baik. Kandungan gulanya relatif rendah, namun sedikit di atas kategori A.
  3. Level C (Warna Oranye): Konsumen disarankan waspada. Kandungan gula atau lemak jenuh pada level ini mulai tinggi.
  4. Level D (Warna Merah): Kategori paling tidak sehat. Minuman ini memiliki kadar gula atau lemak jenuh yang sangat tinggi. Produk di kategori ini biasanya wajib mencantumkan label merah mencolok di bagian depan kemasan.

Mengapa Kebijakan Ini Sangat Penting di Tahun 2026?

Cara Baca Nutri Level - Health Promotion Board
Cara Baca Nutri Level – Health Promotion Board

Langkah Kemenkes menerapkan Nutri Level bukan tanpa alasan. Berikut adalah beberapa faktor pendorong di balik urgensi regulasi ini:

1. Darurat Diabetes di Indonesia

Indonesia sering masuk dalam daftar 10 besar negara dengan jumlah penderita diabetes terbanyak di dunia. Dengan adanya label visual yang jelas, diharapkan masyarakat secara sadar beralih ke produk level A atau B, sehingga asupan gula harian lebih terkontrol.

2. Transparansi Bagi Konsumen

Selama ini, klaim pemasaran seperti “Less Sugar” atau “Low Fat” sering kali menyesatkan karena standar tiap produsen berbeda-beda. Nutri Level menyatukan standar tersebut di bawah regulasi pemerintah yang ketat.

3. Mendorong Reformulasi Produk oleh Produsen

Adanya label ini secara tidak langsung “memaksa” perusahaan makanan dan minuman untuk merancang ulang formula produk mereka. Jika ingin produknya tetap diminati, mereka harus mengurangi kadar gula agar tidak mendapatkan label “D” yang berwarna merah.


Perbedaan Nutri Level dengan Label Gizi Lama

Informasi_Nilai_Gizi - Wikipedia
Informasi_Nilai_Gizi – Wikipedia
FiturLabel Gizi Lama (Tabel Belakang)Nutri Level (Label Depan)
PosisiBelakang kemasan (sering tersembunyi)Depan kemasan (mudah terlihat)
KemudahanHarus menghitung gramasi sendiriMenggunakan kode warna A-D
Fokus UtamaSeluruh zat giziGula, Garam, dan Lemak (GGL)
EfektivitasRendah bagi orang awamSangat tinggi untuk keputusan cepat

Tantangan dalam Implementasi Nutri Level

Woman choosing daily products at supermarket - Everypixel
Woman choosing daily products at supermarket – Everypixel

Meskipun terdengar sangat menjanjikan, penerapan Nutri Level di Indonesia memiliki beberapa tantangan besar:

  • Edukasi Masyarakat: Masih banyak masyarakat di daerah terpencil yang belum paham cara membaca label warna ini.
  • Kesiapan UMKM: Minuman siap saji yang dijual di gerai kecil atau UMKM (seperti es teh gerobakan) juga ditargetkan terkena aturan ini. Hal ini memerlukan pendampingan teknis agar mereka bisa menentukan level produknya secara akurat.
  • Pengawasan: Diperlukan pengawasan ketat dari BPOM dan Kemenkes agar klaim label yang dipasang produsen sesuai dengan kandungan aslinya.

Bagaimana Cara Kita Beradaptasi?

Sebagai konsumen yang cerdas, kita tidak perlu menunggu semua produk berubah labelnya. Mulailah dengan membiasakan diri membaca komposisi. Ingatlah rumus sederhana: semakin tinggi posisi gula dalam daftar komposisi, semakin besar kandungannya dalam produk tersebut.

Jika Anda melihat logo Nutri Level di masa depan, prioritaskan produk dengan Level A dan B. Batasi konsumsi Level C, dan sebisa mungkin hindari Level D untuk konsumsi harian.

Kapan Nutri Level Akan Dimulai

Nutri Level sudah memasuki babak resmi. Berdasarkan perkembangan hingga April 2026, berikut adalah jadwal dimulainya:

Jadwal Implementasi

  • Peresmian Regulasi: Kepala BPOM RI, Taruna Ikrar, telah secara resmi menandatangani revisi peraturan terkait pencantuman Nutri Level pada 6 April 2026.
  • Tahap Awal (Fase Sukarela): Saat ini, kebijakan mulai diberlakukan secara bertahap. Pada fase awal, penerapan label ini masih bersifat sukarela bagi produsen, namun sangat didorong sebagai bentuk edukasi publik.
  • Prioritas Produk: Produk Minuman Berpemanis Dalam Kemasan (MBDK) menjadi prioritas utama yang harus segera mencantumkan label ini sebelum nantinya diperluas ke kategori pangan olahan lainnya.

Mengapa Bertahap?

Pemerintah memberikan waktu bagi pelaku industri untuk melakukan reformulasi produk (mengurangi gula/garam/lemak) agar mereka bisa mengejar kategori A atau B sebelum label ini menjadi kewajiban penuh di seluruh pasar.

Link Sumber Berita Valid (Update April 2026):

  1. DetikHealth: Sudah Direstui BPOM RI, Nutri Level Bakal Mencakup 4 Kategori Ini
  2. Koran Manado: BPOM RI Resmi Terapkan Sistem Nutri Level pada Label Pangan Olahan
  3. Humas BPOM (JDIH): Kepala BPOM Setujui Kebijakan Pencantuman Nutri Level
  4. Readers.id: BPOM Resmikan Sistem Pelabelan Nutri Level untuk Pangan Olahan

Kesimpulan

Nutri Level adalah langkah revolusioner dalam upaya memperbaiki pola makan masyarakat Indonesia. Dengan penyederhanaan informasi melalui kategori A, B, C, dan D, kita kini memiliki senjata untuk melawan ancaman penyakit metabolik langsung dari rak belanjaan kita. Mari dukung kebijakan ini demi generasi Indonesia yang lebih sehat dan bebas diabetes.

Referensi:

  1. Kementerian Kesehatan RI: Kemenkes Siapkan Regulasi Label Nutri-Level untuk Tekan Konsumsi Gula
  2. Antara News: Kemenkes ungkap kriteria tingkatan Nutri-Level pada minuman kemasan
  3. CNBC Indonesia: Aturan Baru! Semua Minuman Bakal Ada Label Nutri-Level
  4. Kompas.com: Mengenal Nutri Level, Label Gizi Baru pada Kemasan Minuman

Artikel menarik lainnya

Sweet Potato, Manfaat Ubi Jalar untuk Kesehatan: Panduan Lengkap Ubi Jalar yang Manis dan Bergizi

9++ Topping Minuman Chatime

Red Bean / Kacang Merah: Manfaat Kesehatan, Rasa Unik, dan Penggunaannya Sebagai Topping

14 Rahasia” Pure Matcha ” Kesehatan & Kecantikan

Chagee : Berdiri 2017, Brand Teh Kekinian Ini Mengguncang Dunia dan Merampas Kejayaan Starbuck!