You are currently viewing Seni Menuang Susu – Memahami Latte Art Dari A-Z
3d latte art - japannews.yomiuri.co.jp

Seni Menuang Susu – Memahami Latte Art Dari A-Z

LATTE ART

paris-latte-art - pinterest
paris-latte-art – pinterest

Di chapter ini kita akan membahas latte art secara mendalam, mulai dari pengertian, sejarah kompetisi, peralatan dan bahan yang tepat, hingga teknik-teknik dasar sampai tingkat lanjutan. Setelah membaca chapter ini, Anda akan memiliki pemahaman kuat dan langsung bisa mulai berlatih dengan lebih percaya diri.

APA ITU LATTE ART?

latte-art-by-dongurinekobei _Twitter @dongurinekobei
latte-art-by-dongurinekobei _Twitter @dongurinekobei

Latte art adalah seni visual yang dibuat dengan menuangkan susu yang telah disteam (microfoam) ke dalam espresso sehingga membentuk pola atau gambar di permukaan crema. Latte art bukan sekadar “cantik-cantik” semata, tapi juga bukti bahwa barista menguasai tiga elemen penting:

  • Espresso yang baik (crema tebal dan stabil)
  • Susu yang disteam dengan tekstur sempurna (microfoam halus dan mengkilap)
  • Teknik pouring yang presisi

Latte art pertama kali populer di Seattle, Amerika Serikat pada akhir 1980-an oleh barista David Schomer (Espresso Vivace), kemudian menyebar ke Italia dan akhirnya ke seluruh dunia. Di Indonesia sendiri, latte art mulai booming sekitar tahun 2010 seiring munculnya specialty coffee shop generasi ketiga.

KEJUARAAN LATTE ART DUNIA DAN INDONESIA

Agnieszka-Rojewska-comunicaffe.com
Agnieszka-Rojewska-comunicaffe.com

Dunia

  • World Latte Art Championship (WLAC) diselenggarakan setiap tahun oleh World Coffee Events (bagian dari SCA).
  • Juara terkenal:
    – Arnon Thitipurasilp (Thailand, 2017)
    – Um Paul (Korea Selatan, 2019)
    – Agnieszka Rojewska (Polandia, 2018 – juara wanita pertama)
    – Iris Roasting (Belanda, 2023)
    – Carlos Escobar (Kolombia, 2024)

Indonesia
Indonesia termasuk negara yang sangat kompetitif di Asia Tenggara. Beberapa nama besar latte art Indonesia:

  • Yudi Sujudi (ABCD Coffee School, Jakarta) – pernah masuk final WLAC
  • Ryan Tan (Singapore, tapi sering mewakili Indonesia di awal karir)
  • Hendri Kurniawan (Goni Coffee, Bandung) – juara Indonesia Latte Art Championship berkali-kali
  • Suhaimi Shukor (One Fifteenth Coffee, Jakarta-Bali)
  • Tony Wahyudi (Anomali Coffee)
  • Adi Taroepratjeka (1/15 Coffee, multiple national champion)
  • Lulu Lutfi Labibi (juara wanita Indonesia beberapa kali)

Saat ini Indonesia rutin mengirim wakil ke WLAC dan sering masuk top 12 dunia.

PERALATAN LATTE ART WAJIB DIMILIKI

Pitcher (milk jug)
– Ukuran ideal pemula: 350–400 ml (untuk 1–2 cup)
– Bentuk terbaik: ujung lancip (spout tajam) untuk kontrol aliran
– Rekomendasi: Motta, Rhino, Tiamo, atau Slow Pour Supply Cangkir latte / cappuccino
– Bentuk wide mouth & rounded bottom (La Marzocco, ACF, Loveramics Egg paling ramah) Thermometer (digital lebih akurat) Steam wand yang bersih dan kuat (minimal 2-hole tip untuk mesin rumahan) Timbangan digital (untuk latihan rasio) Sendok kecil & latte art pen (untuk etching) Saringan halus (untuk membersihkan gelembung besar)

BAHAN UTAMA LATTE ART

Espresso yang baik
– Crema tebal, warna hazelnut, ekstraksi 25–30 detik

Susu full cream (lihat bagian khusus di bawah)

Bubuk cokelat / matcha / caramel sauce (untuk color latte art)

SUSU TERBAIK UNTUK LATTE ART

Greenfields Full Cream
Greenfields Full Cream

Jenis susu yang “ramah latte art”

  • Full cream cow’s milk (fat 3.5–4.2%, protein 3.2–3.6%) – paling stabil
  • Merk favorit barista Indonesia:
    – Diamond Plain
    – Greenfields Full Cream
    – Anchor Full Cream
    – Ultra Milk Full Cream
    – Hilo School (bisa, tapi kurang glossy)

Susu plant-based yang bagus

  • Minor Figures Oat
  • Oatly Barista Edition
  • MilkLab Almond / Oat
  • Pacific Barista Series (almond, soy, oat)

Suhu ideal

  • Steaming: 55–65 °C (maksimal 70 °C)
  • Jika terlalu panas (>70 °C) protein rusak → microfoam hancur

Tingkat kemanisan
Susu full cream sudah cukup manis alami. Hindari susu rendah lemak karena kurang creamy dan microfoam cepat pecah.Cara penyimpanan & higienitas

  • Simpan di 1–4 °C (bagian paling bawah kulkas)
  • Jangan pernah freeze-thaw ulang
  • Gunakan dalam 2–3 hari setelah dibuka
  • Cuci pitcher dengan air panas + Puly Milk setiap hari
  • Jangan campur susu baru dengan sisa susu lama di pitcher

LATIHAN LATTE ART TANPA SUSU? BISA…

Oat milk barista edition (pilihan terbaik)

Soy barista (tapi hati-hati over-aerasi)

Coconut barista (sulit, foam cepat hilang)

Homemade oat milk + 1% lecithin powder (bisa jadi alternatif murah)

TEKNIK MILK STEAMING YANG BENAR

pexels-ketut-subiyanto-4350043
pexels-ketut-subiyanto-4350043

Langkah-langkah steaming

  1. Purge steam wand
  2. Isi pitcher ⅓ – ½
  3. Masukkan ujung steam wand tepat di bawah permukaan susu (± 0.5 cm)
  4. Buka steam full power
  5. Fase aerasi (5–8 detik): turunkan pitcher perlahan sampai terdengar suara “tssss… chiss chiss”
  6. Fase whirlpool: masukkan wand lebih dalam (off-center) sampai suara hilang, susu berputar kencang
  7. Stop saat suhu 60–65 °C
  8. Ketuk & swirl pitcher untuk hilangkan gelembung besar

Kesalahan umum

  • Aerasi terlalu lama → foam seperti sabun cuci piring
  • Tidak whirlpool → susu berlapis-lapis (tidak homogen)

Alternatif tanpa steam wand

  • French press (pump 30–40 kali)
  • Hand frother elektrik (Nanofoamer, Subminimal)
  • Blender mini (tapi suhu susah dikontrol)

10+ ISTILAH LATTE ART

Berikut 10 istilah teknis penting dalam latte art yang wajib diketahui barista (beserta penjelasan singkatnya):

  1. Microfoam
    Busa susu yang sangat halus, mengkilap, dan terintegrasi sempurna dengan susu cair (seperti cat basah). Ini syarat utama latte art yang bagus.
  2. Crema
    Lapisan cokelat keemasan di atas espresso hasil ekstraksi yang baik. Crema yang tebal dan stabil menjadi “kanvas” ideal untuk latte art.
  3. Aerasi
    Proses memasukkan udara ke dalam susu saat steaming (fase “tssss-chiss”). Terlalu banyak = foam kasar, terlalu sedikit = susu datar.
  4. Whirlpool / Vortex
    Putaran susu di dalam pitcher saat fase akhir steaming. Fungsinya menghaluskan microfoam dan menyatukan tekstur.
  5. Free Pouring
    Teknik latte art utama dengan hanya menuang susu tanpa alat bantu (tusuk gigi/stencil). Teknik yang dinilai di kompetisi dunia.
  6. Etching
    Teknik menggambar pola menggunakan latte art pen, tusuk gigi, atau sauce setelah menuang susu (biasa untuk pola kompleks atau 3D).
  7. Monk’s Head / Apple Head
    Pola bulat putih dengan titik cokelat di tengah yang muncul saat latihan pouring dasar. Ini tahap awal sebelum heart.
  8. Stack
    Jumlah “daun” atau lapisan pada pola tulip/rosetta. Contoh: “5-stack tulip” = 5 daun.
  9. Wiggle
    Gerakan menggoyang pitcher kanan-kiri saat pouring untuk membuat “sayap” rosetta atau daun tulip.
  10. Contrast
    Tingkat perbedaan warna putih susu dan cokelat crema. Contrast tinggi = latte art terlihat tajam dan jelas (nilai tinggi di kompetisi).

Bonus istilah sering dipakai:

  • Base → bagian awal menuang susu dari ketinggian untuk mencampur dan membentuk canvas putih.
  • Push & Pull → teknik menggerakkan pitcher maju-mundur saat membuat rosetta/swan.

TEKNIK DASAR LATTE ART

pexels-eyad-tariq-2217318-3879495
pexels-eyad-tariq-2217318-3879495
  1. Free Pouring (menuang bebas – teknik utama)
  2. Etching (menggambar dengan tusuk gigi/latte art pen)
  3. Dusting / Stencil (tabur bubuk cokelat dengan stencil)

Etching dan dusting adalah dua teknik latte art yang termasuk kategori non-free pour, biasanya digunakan sebagai pelengkap atau alternatif ketika free pouring belum sempurna.

Etching dilakukan setelah susu dituang dengan cara menggambar pola tambahan menggunakan alat kecil seperti latte art pen, tusuk gigi, sendok, atau corong sauce (cokelat/caramel) langsung di atas microfoam; teknik ini memungkinkan pembuatan gambar kompleks seperti wajah, hewan, atau tulisan yang sulit dibuat hanya dengan menuang.

Sebaliknya, dusting (atau stenciling) adalah teknik paling sederhana dengan menaburkan bubuk cokelat, cinnamon, atau matcha melalui stencil kertas/plastik di atas foam yang sudah rata, sehingga langsung membentuk pola negatif yang rapi dan simetris. Kedua teknik ini sering dipakai di kafe komersial karena cepat dan selalu berhasil 100%, tetapi di kompetisi dunia (WLAC) keduanya mendapat poin sangat rendah atau bahkan tidak diizinkan pada ronde free pour karena dianggap “membantu” terlalu banyak dan tidak menunjukkan skill steaming serta pouring yang sebenarnya.

Kita fokus free pouring karena paling prestisius di kompetisi.

TEKNIK POURING DASAR

Grip pitcher

  • Pegang handle dengan 3 jari (telunjuk di atas spout untuk kontrol)
  • Jempol di belakang untuk stabilitas

Posisi cangkir

  • Miringkan cangkir 15–30° (mudah membentuk “canvas” putih)

Tinggi tuang

  • Awal tinggi (8–12 cm) → untuk mencampur espresso & susu
  • Turunkan sampai hampir menyentuh permukaan (2–3 cm) → mulai gambar

Flow control

  • Goyang pitcher perlahan (bukan tangan)
  • Semakin cepat goyang → garis semakin tebal
  • Semakin tinggi flow → pola semakin besar

POLA DASAR, WAJIB SAAT BELAJAR LATTE ART

latte art pattern - youtube barista nemi
latte art pattern – youtube barista nemi
  1. Heart (wajib dikuasai dalam 1 minggu)
    – Tuang tinggi dulu sampai ½ cangkir
    – Turunkan pitcher, tuang di tengah
    – Naikkan flow di akhir untuk “menutup”
  2. Tulip (3–5 stack)
    – Tuang tinggi → turun → tuang sebentar → mundur 1 cm → tuang lagi → ulang
    – Akhiri dengan tarikan lurus ke arah Anda
  3. Rosetta Mini (wajib untuk kompetisi)
    – Mulai seperti tulip
    – Pada stack terakhir goyang kanan-kiri pelan
    – Tarik lurus sampai habis susu

Pola kompleks (setelah 3 dasar dikuasai)

  • Swan
  • Peacock
  • Slow Rosetta
  • Winged Heart
  • Double Rosetta

3D LATTE ART

3d latte art - japannews.yomiuri.co.jp
3d latte art – japannews.yomiuri.co.jp

Menggunakan foam yang lebih kaku (aerasi lebih lama + suhu lebih rendah). 3D Latte Art adalah cabang latte art paling ekstrem yang menggunakan foam susu yang jauh lebih kaku dan tebal (dibuat dengan aerasi lebih panjang + suhu steaming lebih rendah, biasanya 45–55 °C) sehingga busa bisa “berdiri” dan dibentuk menjadi objek tiga dimensi seperti kucing, beruang, singa, kartun karakter, bahkan pemandangan mini.

Tekniknya menggabungkan free pouring sebagai dasar, lalu dilanjutkan dengan etching intensif dan penumpukan foam bertahap menggunakan sendok kecil atau langsung dari pitcher dengan tekanan tinggi; beberapa barista top seperti Kazuki Yamamoto (Jepang) bahkan memakai dua atau tiga pitcher dengan tingkat kekakuan foam berbeda untuk bagian tubuh dan detail wajah.

Di Indonesia, 3D latte art sangat populer sebagai “content bait” di media sosial dan sering muncul di kafe-kafe Instagrammable (contoh: %Arabica Kyoto style di Jakarta atau Manis Coffee di Bandung), tetapi membutuhkan latihan ratusan cup karena foam harus sangat stabil dan barista harus mampu mengontrol suhu serta kecepatan pengerasan foam agar bentuk tidak ambruk dalam 30–60 detik pertama. Meskipun sangat menakjubkan secara visual dan disukai pelanggan, 3D latte art tidak diperlukan untuk kompetisi resmi (WLAC hanya menilai free pour 2D dengan contrast tinggi) dan sering dikritik karena minuman menjadi terlalu dingin saat disajikan.

Barista terkenal:

  • Kazuki Yamamoto (Jepang)
  • Daphne Tan (Singapura)

Di Indonesia:

  • Raka Aldy (Jakarta)
  • Reza Setya (Bandung)

KENDALA UMUM SAAT PROSES LATTE ART

Busa terlalu besar → kurangi waktu aerasi, gunakan steam tip 4-hole

Pola pecah / blur → crema terlalu tipis atau susu terlalu panas

Pola tenggelam → tuang terlalu tinggi terlalu lama

Pola tidak simetris → tangan goyang, latihan wrist movement

TIPS MENJADI AHLI LATTE ART

latte art - pexels-spotwizardlee
latte art – pexels-spotwizardlee
  1. Latih “wrist shake” tanpa pitcher dulu (gunakan botol air)
  2. Rekam video setiap latihan (lihat kesalahan dari samping)
  3. Gunakan cangkir transparan untuk pemula
  4. Latih 50 heart/hari selama 30 hari → otomatis tangan tidak kaku
  5. Konsistensi espresso adalah 70% keberhasilan latte art
  6. Jangan ganti susu terlalu sering (pilih satu merk, kuasai dulu)
  7. Ikut throwdown lokal (tekanan kompetisi mempercepat progress)

Latihan harian yang direkomendasikan (30–45 menit):

  • 10 monk’s head (latihan aliran stabil)
  • 20 heart
  • 20 tulip
  • 10 rosetta

Dalam 3–6 bulan dengan latihan disiplin, Anda sudah bisa membuat pola kompetisi standar nasional.Selamat berlatih!

Artikel Lainnya

Kompetisi Barista Dunia, Ini 4 diantaranya…

Kompetisi Barista Indonesia, Ini 4 diantaranya…

Izensso Raptor Single Head, Mesin Kopi Canggih, Datang Untuk Menantang!

Izensso Canon Pro, Mesin Kopi Next Level Dari Izensso, Jajal Kehebatannya!

Biji Kopi Arabica vs Robusta, Apa Bedanya?

Cold Brew Coffee? Apa Itu

Bosan Ngopi, Minum Matcha Aja! Inilah Perbedaan Matcha dan Green Tea

8 Kedai Kopi Terbesar di Indonesia: Menu Andalan, Inovasi Terbaru, dan Kisah Sukses di Baliknya

Mengenal Berbagai Tipe Kekasaran Gilingan Biji Kopi (Coffee Beans) untuk Hasil Seduhan Sempurna

8 Metode Seduhan Kopi, Mulai Dari French Press, Pour Over, Espresso, Cold Brew …

8 Menu Kopi Hits di Seluruh Dunia!, Udah Pernah Coba?

Perbedaan Long Black Coffee dan Americano

Kopi Freddo, Kopi Hits Ala Negeri Yunani.

Izensso Cannon, Mesin Kopi Mewah Dari MGI.

Mesin Kopi Espresso 007 Dari PT MGI.

Espresso, Latte, Macchiatto dan Cappucinno, Apa Bedanya?

Kopi Luwak, Dan Jajaran Kopi Termahal Di Dunia.

Kopi Atau Teh, Mana Yang Lebih Baik?

Istilah Istilah Dalam Dunia Kopi.