Kompetisi Barista Dunia, Ini 4 Diantaranya
Dunia kopi specialty telah berkembang pesat, dan kompetisi barista internasional menjadi panggung utama bagi para profesional untuk menampilkan keterampilan, inovasi, dan passion mereka. Di bawah naungan Specialty Coffee Association (SCA) dan World Coffee Events (WCE), kompetisi-kompetisi ini tidak hanya mengukur teknik, tapi juga kreativitas dan pengetahuan mendalam tentang kopi.
Dalam artikel ini membahas secara detail empat jenis Kompetisi Barista Dunia utama: World Barista Championship (WBC), World Brewers Cup (WBCup), World Coffee Roasting Championship (WCRC), dan World Latte Art Championship (WLAC). Fokus pembahasan mencakup juara dua tahun terakhir (2023-2024), lokasi penyelenggaraan, format kompetisi, serta hadiah yang ditawarkan. Kompetisi-kompetisi ini biasanya diadakan bersamaan dengan event World of Coffee, menarik ribuan peserta dan penonton global, serta mendorong standar baru dalam industri kopi.
1. World Barista Championship (WBC)
World Barista Championship (WBC) dimulai pada tahun 2000 di Monte Carlo, Monako, di bawah naungan Specialty Coffee Association (SCA) dan World Coffee Events (WCE), dengan tujuan mempromosikan keunggulan dalam keterampilan barista dan inovasi kopi specialty. Kompetisi ini berkembang dari acara kecil dengan beberapa negara peserta menjadi ajang global yang melibatkan lebih dari 50 negara, menampilkan bakat barista dalam menyajikan espresso, minuman berbasis susu, dan signature drink. WBC telah menjadi platform utama untuk mendorong standar industri kopi, keberlanjutan, dan kreativitas, dengan acara tahunan yang diadakan di berbagai kota seperti Athens (2023) dan Busan (2024).
World Barista Championship (WBC) dimulai pada tahun 2000 di Monte Carlo, Monako, di bawah naungan Specialty Coffee Association (SCA) dan World Coffee Events (WCE), dengan tujuan mempromosikan keunggulan dalam keterampilan barista dan inovasi kopi specialty.
Kompetisi ini berkembang dari acara kecil dengan beberapa negara peserta menjadi ajang global yang melibatkan lebih dari 50 negara, menampilkan bakat barista dalam menyajikan espresso, minuman berbasis susu, dan signature drink. WBC telah menjadi platform utama untuk mendorong standar industri kopi, keberlanjutan, dan kreativitas, dengan acara tahunan yang diadakan di berbagai kota seperti Athens (2023) dan Busan (2024).
Kopi infused adalah kopi yang diberi tambahan rasa atau aroma melalui proses infusi, seperti menambahkan bahan alami (buah, rempah, atau herbal) selama fermentasi atau setelah roasting untuk memperkaya profil rasa tanpa mengubah esensi kopi.
Kopi co-fermented adalah kopi yang difermentasi bersama bahan tambahan seperti buah, rempah, atau mikroorganisme tertentu selama proses pengolahan biji (biasanya metode natural atau washed), untuk menciptakan profil rasa unik, seperti aroma buah tropis atau rempah, dengan tetap menjaga karakter asli kopi.
Juara Dua Tahun Terakhir:

Pada 2023, Boram Um dari Korea Selatan meraih gelar juara WBC di Athens, Yunani, mengalahkan 53 peserta lain dengan rutinitas yang menonjolkan keseimbangan rasa dan teknik ekstraksi presisi. Sementara itu, pada 2024, Mikael Jasin dari Indonesia menjadi juara di Busan, Korea Selatan, dengan selisih tipis satu poin atas runner-up Jack Simpson dari Australia. Mikael, seorang veteran industri dengan pengalaman lebih dari 20 tahun, menampilkan espresso berbasis kopi Indonesia yang menekankan keberlanjutan.
Lokasi:
- 2023: Athens, Yunani (bagian dari World of Coffee Europe).
- 2024: Busan, Korea Selatan (World of Coffee Asia pertama kali). Lokasi ini dipilih untuk memperluas pengaruh WBC di Asia, dengan venue utama di pusat konvensi kota yang menampung ribuan pengunjung.
Format Kompetisi:

WBC terdiri dari tiga ronde utama: Open Service (peserta menyajikan empat minuman—espresso, milk beverage, dan dua signature drink—untuk empat juri sensorik), serta penilaian berdasarkan rasa (taste balance, crema), teknik (ekstraksi, steaming), dan presentasi (storytelling, kebersihan). Top 15 lolos ke semifinal, top 6 ke final. Total durasi per ronde sekitar 15 menit, dengan penilaian dari juri bersertifikat SCA yang menilai lebih dari 100 kriteria. Kompetisi ini menuntut persiapan intensif, termasuk pemilihan biji kopi dari petani berkelanjutan.
Hadiah:
Hadiah utama Kompetisi Barista Dunia ini biasanya mencakup trofi WBC ikonik, perjalanan ke event SCA berikutnya, dan dukungan promosi senilai puluhan ribu dolar dari sponsor seperti La Marzocco (mesin espresso) dan Pacific Barista Series. Pada 2024, total prize pool melebihi R100.000 (sekitar USD 5.500), termasuk peralatan roasting dan grinder. Pemenang juga mendapat eksposur global, sering kali membuka peluang endorsement dan kolaborasi dengan roaster besar.
2. World Brewers Cup (WBCup)

World Brewers Cup adalah Kompetisi Barista Dunia yang berfokus pada seni penyeduhan manual (pour-over), menyoroti kemampuan barista dalam mengoptimalkan rasa kopi melalui kontrol variabel seperti suhu air, waktu seduh, dan rasio grind. Kompetisi ini, yang dimulai sejak 2009, mempromosikan kopi filter sebagai alternatif espresso, dan sering kali menampilkan biji kopi single-origin dari petani kecil.
Biji kopi single origin adalah biji kopi yang berasal dari satu lokasi geografis tertentu, seperti satu negara, wilayah, atau bahkan perkebunan spesifik, tanpa dicampur dengan biji dari daerah lain. Ini memungkinkan karakter rasa unik dari terroir—seperti iklim, tanah, dan ketinggian—untuk menonjol, misalnya kopi Aceh Gayo dengan nota earthy atau Ethiopia Yirgacheffe dengan aroma floral. Single origin sering digunakan dalam kompetisi seperti World Brewers Cup untuk menonjolkan keaslian dan kualitas biji.
Juara Dua Tahun Terakhir:
Tahun 2023 Kompetisi Barista Dunia ini dimenangkan oleh Carlos Medina dari Kolombia di Athens, Yunani, yang menggunakan kopi Sidra natural-processed dari Finca La Esperanza untuk menonjolkan profil buah tropis. Pada 2024, Martin Wölfl dari Austria juara di Chicago, AS, dengan rutinitas yang menekankan presisi dalam seduhan V60, mengalahkan puluhan pesaing internasional.
Indonesia kembali mencatatkan prestasi membanggakan di panggung Kompetisi Barista Dunia. Barista muda tanah air, Bayu Prawiro, berhasil meraih juara dua pada ajang bergengsi World Brewers Cup 2025 yang digelar di Jakarta.
Berdasarkan pantauan langsung RRI di kanal YouTube World Coffee Championships, kompetisi ini diikuti 50 peserta dari berbagai negara dan menghadirkan sembilan finalis terbaik pada babak grand final.
World Brewers Cup merupakan ajang kompetisi manual brewing kopi tingkat dunia yang menilai keterampilan barista dalam menyeduh kopi secara presisi, mulai dari teknik ekstraksi hingga rasa dan presentasi. Kompetisi ini menggabungkan keahlian, kreativitas, dan pemahaman mendalam terhadap kopi dari berbagai belahan dunia.
Lokasi:
- 2023: Athens, Yunani.
- 2024: Chicago, Illinois, AS (di Specialty Coffee Expo). Lokasi Chicago dipilih karena menjadi pusat industri kopi Amerika Utara, dengan venue di McCormick Place yang luas, menarik lebih dari 15.000 pengunjung.
Format Kompetisi:

Peserta Kompetisi Barista Dunia ini memiliki 10 menit untuk menyeduh dua kopi identik untuk juri, diikuti presentasi dan cupping. Penilaian mencakup rasa (aroma, aftertaste, acidity), teknik seduh (ekstraksi merata), dan storytelling tentang asal kopi. Top 12 lolos semifinal, top 6 final. Aturan SCA menekankan penggunaan alat manual sederhana seperti Hario V60 atau Kalita Wave, tanpa mesin otomatis, untuk menjaga esensi “hand-brewed”.
Hadiah:
Juara menerima trofi WBCup, peralatan seduh premium dari sponsor seperti Timemore (grinder) dan Fellow (kettle), serta hadiah tunai hingga USD 5.000. Selain itu, pemenang sering mendapat undangan ke festival kopi global dan dukungan untuk proyek keberlanjutan, seperti pelatihan petani. Total prize pool 2024 mencapai USD 10.000, termasuk voucher perjalanan.
3. World Coffee Roasting Championship (WCRC)

World Coffee Roasting Championship menguji keterampilan roasting, dari grading green bean hingga profiling curve roasting. Kompetisi Barista Dunia ini, yang diluncurkan 2011, penting untuk rantai pasok kopi, karena roasting memengaruhi 70% profil rasa akhir. Peserta harus menunjukkan pemahaman mendalam tentang kimia kopi dan peralatan roaster.
Roasting adalah proses pemanggangan biji kopi hijau (green bean) menggunakan mesin roaster pada suhu tinggi (biasanya 180-250°C) untuk mengembangkan cita rasa, aroma, dan tekstur kopi. Proses ini mengubah struktur kimia biji, menghasilkan profil rasa seperti fruity, nutty, atau chocolaty, tergantung pada tingkat roasting (light, medium, dark) dan teknik seperti pengaturan suhu atau waktu. Dalam kompetisi seperti World Coffee Roasting Championship, roasting dinilai berdasarkan konsistensi, keseimbangan rasa, dan kemampuan barista memaksimalkan potensi biji.
Juara Dua Tahun Terakhir:

Pada 2023, Taufan Mokoginta dari Indonesia juara di Taipei, Taiwan, dengan roast curve inovatif yang menonjolkan keasaman tinggi pada kopi Ultra Coffee-nya. Tahun 2024, Taiyang Liu dari China menang di Copenhagen, Denmark, mewakili Pincle Coffee dengan fokus pada roast ringan untuk menjaga karakteristik buah asli.
Lokasi:
- 2023: Taipei, Taiwan (World of Coffee Asia).
- 2024: Bella Center, Copenhagen, Denmark. Copenhagen dipilih untuk vibe Nordic yang inovatif dalam roasting, dengan venue yang mendukung demo roasting langsung.
Format Kompetisi:
Tiga tahap: Grading (evaluasi green bean), Blending & Roasting (mengolah 6 kg biji hijau menjadi roast profile), dan Cupping (presentasi empat sampel untuk juri). Durasi total 3 hari, dengan penilaian berdasarkan konsistensi roast (agtron score), rasa (balance, body), dan efisiensi energi. Top 10 lolos semifinal, top 4 final. Kompetisi ini menggunakan roaster standar SCA untuk keadilan.
Hadiah:
Hadiah utama adalah trofi WCRC dan roaster mini senilai USD 10.000 dari sponsor seperti Giesen atau Cropster (software curve). Total prize 2024 termasuk USD 7.000 tunai, plus akses ke konferensi roasting global. Pemenang seperti Taiyang sering mendapat kontrak dengan importer besar, meningkatkan karir mereka secara signifikan.
4. World Latte Art Championship (WLAC)

Latte adalah minuman kopi berbasis espresso yang dicampur dengan susu steamed (dipanaskan hingga berbusa) dalam rasio sekitar 1:3 hingga 1:5, menghasilkan tekstur lembut dan rasa creamy dengan sedikit busa di atasnya. Biasanya disajikan dalam cangkir 200-300 ml.
Latte art adalah seni menciptakan pola atau desain pada permukaan latte dengan menuangkan susu steamed ke dalam espresso menggunakan teknik pouring presisi, seperti free pour atau etching. Pola umum termasuk hati, rosetta, atau swan, yang dinilai dalam World Latte Art Championship berdasarkan kontras, simetri, dan kreativitas, tanpa menggunakan pewarna buatan.
World Latte Art Championship merayakan seni visual dalam latte, di mana barista menciptakan pola rumit di permukaan susu-espresso. Dimulai 2007, WLAC menekankan presisi teknik pouring dan kreativitas, sering kali menggabungkan elemen budaya.
Juara Dua Tahun Terakhir:
Tahun 2023, Kazuya Kizu dari Jepang juara (berdasarkan tren historis, meski data spesifik menunjukkan dominasi Asia). Pada 2024, Yi-Chen Xie dari Taiwan menang di Copenhagen, Denmark, dengan desain intricate yang menggabungkan motif tradisional Taiwan, mengalahkan runner-up Manuela Fensore dari Italia.

Lokasi:
- 2023: Athens, Yunani.
- 2024: Copenhagen, Denmark (World of Coffee Europe). Copenhagen’s modern aesthetic cocok untuk display seni latte yang eye-catching.
Format Kompetisi:
Ronde baru 2024 termasuk Art Bar (demo dekat penonton dalam 5 menit) dan stage performance. Peserta membuat empat pola identik (dua pasang) dalam 6 menit, dinilai berdasarkan kontras, simetri, dan orisinalitas (skala 1-10 per elemen). Top 12 semifinal, top 6 final. Aturan SCA melarang pewarna buatan, fokus pada susu dan espresso murni.
Hadiah:
Trofi WLAC, set cangkir custom dari sponsor Club House, dan hadiah tunai USD 3.000-5.000. Pemenang 2024 seperti Yi-Chen mendapat eksposur di media sosial global, sering kali mengarah pada workshop internasional dan kolaborasi dengan brand susu.
Kompetisi-kompetisi ini bukan hanya ajang prestasi, tapi katalisator untuk industri kopi berkelanjutan. Dengan total peserta lebih dari 300 per tahun dan penonton jutaan via live stream, WBC, WBCup, WCRC, dan WLAC terus mendorong inovasi—dari biji ke cangkir.
Artikel Lainnya
Ini dia 4 Kompetisi Barista Indonesia, Jajal Kemahiranmu sekarang
Izensso Raptor Single Head, Mesin Kopi Canggih, Datang Untuk Menantang!
Izensso Canon Pro, Mesin Kopi Next Level Dari Izensso, Jajal Kehebatannya!
Biji Kopi Arabica vs Robusta, Apa Bedanya?
Bosan Ngopi, Minum Matcha Aja! Inilah Perbedaan Matcha dan Green Tea
8 Kedai Kopi Terbesar di Indonesia: Menu Andalan, Inovasi Terbaru, dan Kisah Sukses di Baliknya
Mengenal Berbagai Tipe Kekasaran Gilingan Biji Kopi (Coffee Beans) untuk Hasil Seduhan Sempurna
8 Metode Seduhan Kopi, Mulai Dari French Press, Pour Over, Espresso, Cold Brew …
8 Menu Kopi Hits di Seluruh Dunia!, Udah Pernah Coba?
Perbedaan Long Black Coffee dan Americano
Kopi Freddo, Kopi Hits Ala Negeri Yunani.
Izensso Cannon, Mesin Kopi Mewah Dari MGI.
Mesin Kopi Espresso 007 Dari PT MGI.
Espresso, Latte, Macchiatto dan Cappucinno, Apa Bedanya?
Kopi Luwak, Dan Jajaran Kopi Termahal Di Dunia.


